Mojokerto, Al-Amin – Lembaga Pendidikan Pesantren Al-Amin Mojokerto terus meningkatkan kompetensi tenaga pendidik melalui Program Micro Teaching Berbahasa Inggris. Kegiatan yang diikuti para asatidz jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) tersebut berlangsung di FEE Center Kampung Inggris, Pare, Kediri, pada Senin (27/7/2026).

Program Micro Teaching atau MTC menjadi sarana bagi para asatidz untuk berlatih menyampaikan materi pembelajaran menggunakan bahasa Inggris. Kegiatan tersebut tidak hanya mencakup mata pelajaran umum dan sains, tetapi juga materi keislaman dan kebahasaan, seperti Nahwu, Fiqih, dan Bahasa Arab.

Dalam pelaksanaannya, para asatidz melakukan simulasi mengajar di hadapan peserta dari sekolah lain. Mereka menyampaikan materi layaknya kegiatan pembelajaran di kelas, mulai dari membuka pelajaran, menjelaskan materi, membangun interaksi dengan peserta didik, hingga mengelola suasana kelas.

Kegiatan tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan pengajar dalam menggunakan bahasa Inggris secara komunikatif. Selain kemampuan bahasa, peserta juga dilatih untuk meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan berbicara di depan umum, pengelolaan kelas, serta keterampilan menyampaikan materi secara sistematis.

Bagi Ustadz Muhammad Nur Fahmi, salah satu asatidz Pesantren Al-Amin Mojokerto, kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru karena simulasi mengajar dilakukan di hadapan audiens dari sekolah lain. Tantangan semakin terasa ketika ia harus menyampaikan materi kitab kuning yang menggunakan istilah-istilah gramatikal Arab dengan bahasa Inggris.

“Menurut saya, ini merupakan pengalaman baru karena kami melakukan micro teaching di depan audiens dari sekolah lain. Pada awalnya muncul rasa cemas karena harus menyampaikan materi kitab kuning, khususnya Ghoyah at-Taqrib, yang memiliki istilah gramatikal Arab, tetapi disampaikan menggunakan bahasa Inggris. Kami juga menjadi percontohan bagi mereka. Namun, lama-kelamaan saya menjadi lebih menikmati prosesnya,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan bahasa Inggris, tetapi juga menjadi latihan dalam membangun kepercayaan diri dan mengelola kelas. Peserta dituntut mampu tampil di depan umum sekaligus menjaga interaksi dengan audiens selama proses pembelajaran berlangsung.

“Dari kegiatan ini, saya merasa kemampuan manajemen kelas dan percaya diri juga semakin terasah. Kami belajar tampil di depan umum atau public speaking sekaligus mengelola dinamika kelas secara profesional,” ungkapnya.

Tantangan dari asatidz lainnya adalah menjaga agar penyampaian materi menggunakan bahasa Inggris tetap berjalan secara interaktif. Pengajar harus mampu mempertahankan alur pembelajaran agar materi dapat dipahami audiens tanpa membuat suasana kelas menjadi kaku.

Selain praktik mengajar, para asatidz juga mendapatkan evaluasi dan masukan dari tutor profesional FEE Center. Evaluasi tersebut menjadi bahan bagi peserta untuk mengetahui kekurangan dalam penyampaian materi, penggunaan bahasa, pengelolaan kelas, serta teknik komunikasi selama pembelajaran.

Kegiatan tersebut juga diikuti oleh rombongan studi banding dari salah satu SMA di Depok. Kehadiran peserta dari sekolah lain memberikan kesempatan kepada para asatidz untuk mendapatkan pengalaman mengajar dengan karakter audiens yang berbeda.

Bagi Pesantren Al-Amin Mojokerto, pengembangan kompetensi pengajar menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kemampuan menggunakan bahasa Inggris dalam menyampaikan berbagai materi diharapkan dapat memperluas metode pembelajaran sekaligus mempersiapkan pengajar menghadapi kebutuhan pendidikan yang terus berkembang.

Pengalaman mengikuti micro teaching juga mendorong para asatidz untuk menjadi pendidik yang lebih adaptif dan inovatif. Ustadzah Nabilah Salsabil menilai kemampuan tersebut penting agar asatidz mampu mengikuti perkembangan pendidikan dan memiliki daya saing di era global.

“Harapannya, kegiatan seperti ini dapat meningkatkan kapasitas kami sebagai pendidik yang adaptif, inovatif, dan siap bersaing di era global. Terutama dalam mengembangkan kemampuan menghubungkan pembelajaran kitab kuning dengan bahasa Inggris,” tuturnya.

Melalui program tersebut, Pesantren Al-Amin Mojokerto berharap kompetensi para asatidz dapat terus berkembang dan memberikan dampak terhadap proses pembelajaran santri. Penggunaan bahasa Inggris tidak hanya diharapkan menjadi kemampuan tambahan bagi para pengajar, tetapi juga menjadi sarana untuk memperluas wawasan dan menghadirkan pembelajaran yang lebih variatif tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar pendidikan pesantren.