Mojokerto, Al-Amin – Pemerintah Kota Mojokerto melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Taruna Siaga Bencana (Tagana) menggelar program Tagana Masuk Pesantren (TAMATREN) 2026 di Pondok Pesantren Al-Amin Mojokerto Putri, Selasa (21/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh para santri putri sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi situasi darurat, khususnya bencana kebakaran.

Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari atau yang akrab disapa Ning Ita, hadir secara langsung dalam kegiatan tersebut. Turut hadir jajaran Kementerian Agama (Kemenag) Kota Mojokerto, pimpinan BPBD, serta personel Tagana. Dalam arahannya, Ning Ita menekankan pentingnya membangun budaya kesiapsiagaan bencana di lingkungan pesantren.

Menurutnya, pesantren merupakan lingkungan yang dihuni banyak santri sehingga pemahaman mengenai mitigasi dan penanganan bencana perlu diberikan sejak dini. Ia juga mengingatkan bahwa kebakaran menjadi salah satu potensi bahaya yang perlu diwaspadai di lingkungan perkotaan.

“Kesiapsiagaan adalah bagian dari ikhtiar dan wujud kepedulian terhadap diri sendiri maupun sesama. Melalui edukasi dan simulasi ini, kita ingin membentuk santri yang tanggap dan sigap ketika menghadapi bahaya,” ujar Ning Ita.

Dalam kegiatan TAMATREN 2026, santri tidak hanya mendapatkan materi mengenai kebencanaan, tetapi juga mengikuti praktik penanganan kondisi darurat. Materi yang diberikan meliputi tata cara evakuasi secara aman, pengenalan alat pemadam api ringan (APAR), serta teknik sederhana memadamkan api skala kecil menggunakan APAR dan kain basah.

Para santri juga diberikan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung langkah-langkah penanganan kebakaran. Simulasi tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman nyata sehingga santri tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengetahui tindakan yang tepat ketika menghadapi keadaan darurat.

Salah seorang santri, mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui kegiatan tersebut. “Saya senang mendapatkan ilmu baru ini, tentang bagaimana menangani kebakaran,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para santri memiliki pengetahuan, kesiapsiagaan, dan keterampilan dasar dalam menghadapi bencana. Edukasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya membentuk santri yang tidak hanya unggul dalam bidang keagamaan dan akademik, tetapi juga tanggap, mandiri, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.