Pondok Pesantren Al-Amin Mojokerto

IMPLEMENTASI PENGABDIAN PARA PENDIRI PESANTREN AL-AMIN DI PENGAJIAN MANASIK HAJI AL-MUTTAQIN

Mushalla Al-Muttaqin yang beralamatkan di lingkungan Kedung Mulang desa Surodinawan didirikan pada tahun 1990 oleh anggota keluarga besar bani H. Sanusi dan Hj. Fatimah, yang merupakan orang tua kandung dari KH. Mas’ud Yunus, dan mertua dari KH. Abdul Aziz, serta kakek dan nenek dari Dr. KH. A. Jazuli, S.H., M.Si., yang ketiganya merupakan para pendiri pondok pesantren Al-Amin.

Bangunan berlantai dua itu pun bisa terselesaikan berkat jariyah dari H. Bambang Prayitno yang juga merupakan pendiri pondok pesantren Al-Amin. Oleh karenanya, keberadaan mushalla ini merupakan salah satu bukti nyata semangat perjuangan dan pengabdian para pendiri pondok pesantren Al-Amin dalam menegakkan syi’ar Islam yang rahmatan lil ‘alamin, serta dalam mewujudkan citra Islam yang inklusif, yakni Islam yang berhaluan ahlussunnah wal jama’ah al-nahdliyah.

Beragam kegiatan keagamaan, sosial dan kemasyarakatan dilaksanakan di mushalla tersebut. Salah satunya adalah pengajian manasik haji Al-Muttaqin, yang telah diselenggarakan sejak tahun 1994 hingga saat ini. Pengajian manasik ini memiliki tujuan utama memberikan bekal ilmu manasik haji kepada calon-calon jamaah haji, sehingga mereka mampu melaksanakan ibadah haji sesuai tuntunan agama.

Hal ini menjadi atensi penting karena berdasar fakta saat itu sebagaimana yang diutarakan Hj. Fatimah kepada putra dan putrinya usai melaksanakan ibadah haji pada tahun 1990 “jamaah haji mojokerto, yang masih kurang adalah bekal ilmunya. Sehingga ibadahnya kebanyakan hanya ikut-ikutan tanpa didasari ilmu”. Oleh karenanya, pada tahun 1993, KH. Mas’ud Yunus diperintah oleh Hj. Fatimah untuk segera melaksanakan pengajian manasik haji.

Pada tahun 1994, KH. Mas’ud Yunus pun bermusyawarah dengan KH. Abdul Aziz, Nyai Hj. Shobiroh, H. Nur Kholis, dan saudaranya, hingga disepakati untuk menyelenggarakan pengajian manasik haji di mushalla Al-Muttaqin dengan metode teori dan praktek dengan narasumber utama KH. Abdul Aziz, sedangkan KH. Mas’ud Yunus dan saudara-saudara yang lain sebagai asisten (pembantunya).

Pada tahun pertama, pengajian manasik haji ini diikuti 15 orang, yaitu warga kelurahan Surodinawan yang akan pergi haji, dan dilaksanakan di lantai atas gedung TPQ Al-Muttaqin, baik teori maupun praktek. Pada tahun berikutnya (1995), jamaahnya meningkat antara 30-50 orang, dan sempat pelajaran prakteknya dilaksanakan di masjid agung Al-Fattah Mojokerto, yang dibantu oleh KH. Mudzakkir Ma’ruf.

Pada tahun 1996, jamaahnya terus meningkat hingga mencapai ± 100 orang. Sehingga perlu ada perubahan-perubahan teknis, antara lain tempat penyampaian teori dan dilaksanakan di mushalla Al-Muttaqin untuk jamaah laki-laki, sedangkan jamaah perempuan di halaman mushalla Al-Muttaqin. Tempat praktek thawaf di halaman rumah KH. Mas’ud Yunus. Sedangkan praktek sa’i di jalan kedung mulang gang II. Adapun untuk praktek wukuf, lempar jumrah, dan mabit di Muzdalifah, dan Mina dilaksanakan di pondok pesantren Al-Khodijah.

Berdasarkan pesan Hj. Fatimah sebelum wafat, hendaknya pengajian manasik haji dilaksanakan secara istiqamah dan dijadikan wiridan sampai mati. Cara ngajinya seperti itu, tempatnya ya di situ, dan tidak diperkenankan menarik uang dari para peserta pengajian sedikitpun. Pengajian manasik haji Al-Muttaqin oleh beliau ditekankan pada semangat gotong royong keluarga. Yang memiliki ilmu, andil dengan ilmunya. Yang memiliki harta, andil dengan hartanya, yang memiliki tenaga ikut andil dengan tenaganya, dan semuanya harus ikhlas untuk berkhidmah pada calon-calon tamu Allah.

Dari semangat gotong royong keluarga itulah, pengajian manasik haji Al-Muttaqin dapat memberikan fasilitas kepada para jamaah berupa konsumsi dan buku ringkasan manasik haji dan umrah secara gratis (Cuma-Cuma). Begitulah pelaksanaan pengajian manasik haji Al-Muttaqin terus berlangsung hingga sekarang. Jamaahnya pun meningkat hingga mencapai 600 orang dari berbagai daerah di sekitar kota Mojokerto.

Sepeninggal KH. Abdul Aziz yang wafat pada tahun 2015 dan KH. Mas’ud Yunus pada tahun 2020, pengajian manasik haji Al-Muttaqin dilanjutkan oleh Dr. KH. A. Jazuli, S.H., M.Si.(ketua dewan pengasuh Pon.Pes. Al-Amin), putra KH. Abdul Aziz sebagai pembina utama, dan H. M. Imaduddin (kepala MA Pesantren Al-Amin), putra kedua KH. Mas’ud Yunus, dengan didampingi oleh ibu Nyai Hj. Shobiroh, Nyai Hj. Manzilatun, dan anggota keluarga besar bani H. Sanusi dan Hj. Fatimah. Eksistensi pengajian manasik haji Al-Muttaqin merupakan salah satu bukti nyata buah manis dari perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian yang tulus dari para pendiri pondok pesantren Al-Amin. Mudah-mudahan seluruh amal baik beliau diterima dan diridhai oleh Allah swt, amin. (miz)